Skip to main content

Full text of "Kupas Tuntas 1,2 dan 4"

See other formats


Baslani 2 



Tldak ada Perllrajngan 
Kecuali dengan Al-lmai atau^Al-Aman 



y -n 


$ l7 




■# 


gi* J* K. 


A k *\ ^ 


f% 


Syetkh Abu AbdlUah i 

\ fakaU©hu isrohu 


U-M, 


' 


m 

^H HT ■ ^H HT 


9 L' - " R 


V 




Maktahah I3H7 



Maktabah Jahfzuna 

Rojab 1433 H 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 




Asy-Syeikh Al-Mujahid Al-Asir Abu Abdillah Al-Muhajir takkallohu asroh 



Kupas Tuntas Fiqih Jihad 



Bagian Kedua 

Tidak ada Perlindungan 

kecuali dengan Al-Iman 

atau Al-Aman 




Maklabah Jahizura 



2 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 

Judul Asli 

Masailu min Fiqhil Jihad / Ahkamud Dima' 
Penulis 

Asy-Syeikh Al-Mujahid Al-Asir Abu Abdillah Al-Muhajir takkallohu asroh 

Judul Terjemahan 

Kupas Tuntas Fiqih Jihad Bagian Kedua 

Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-lman atau Al-Aman 

Alih Bahasa 

Abu Nabila Farida Muhammad 

semoga Allah menjaganya, keluarganya dan menjaga kedua orang tuanya dengan sebaik-baik 

pemeliharaan, melimpahkan keberkahan dan kebaikan sepanjang umurnya untuk dakwah tauhid waljihad 

dan memilihnya sebagai syuhada atau membebaskannya dari hisab karena hijroh dijalan Alloh 

Artwork, Layout, Editing, Muroja'ah 

Tim Jahizuna Project hatidhohumuiioh 

Jaiakumuiioh atas amaljama'1 penuh barokah ini. Seluruh waktu, dana dan kerja keras yang antum 

dermakan akan diganti dengan kebaikan yang berterusan hingga hari akhir, insya Alloh. Hanya Alloh 

yang mengetahui tulus cinta antum padajihad dan mujahidin, manusia hanya mampu menilai dari karya 

yang dilahirkan -lead project 

Publikasi 

Jahizuna Publishing 

www.jahizuna.com | www.facebook.com/jahizuna 

Rojab 1433 dari hijrah Rasul sholallahu alaihi wassalam 

Maktabah Jahizuna Control Number: node/807 

Signature: B4D7 1809 979D 81 1 A 025C 6EBB 069B A7B9 EF9E 3987 

Kitab Asli dapat ditemukan di 

MimbarTauhid wal Jihad 
http://www.tawhed.ws/dl?i=7za3aa1a 



HAK TERJEMAHAN PADA PENTERJEMAH, HAK PENERBITAN PADA JAHIZUNA & DILINDUNGI 

SYARIAT ISLAM 



3 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



Adakah Gading yang tak Retak? 

Meskipun kami telah sekuat tenaga melakukan editing dan muroja'ah berulang-ulang, sangat 
mungkin masih terdapat cacat penterjemahan. Kami akan sangat berterima kasih jika antum 
bersedia melaporkan temuan kesalahan-kesalahan terjemahan kepada kami. 



Berenang bersama Arus Salafy Jihadi 

Antum dapat mendiskusikan topik ini atau yang lainnya bersama saudara-saudara antum yang 
mulia di forum: 



Berbahasa Indo-Melayu 

http://at-tawbah.net/vb 
http://al-busyro.org/vb 



Berbahasa Arab 

https://as-ansar.com/vb 
https://as-ansar.org/vb 



Berbahasa Inggris 

www.ansarl.info 
https://www.ansarl.info 



Dedikasi 

Kepada mereka yang berhijrah meninggalkan Istri dan anak-anakNya, meninggalkan harta dan 
tanah airNya, menjauhi tempat tidur, kenikmatan dan kesenangan; Zuhud terhadap kehidupan 
dunia yang fana; mencintai kehidupan akhirat yang abadi; Dan pergi ke kancah-kancah jihad 
dan medan-medan kesyahidan fi sabilillah, bertawakal kepada Alloh subhanahu wa ta'ala 
dengan tekad yang tidak terbelokkan, kemauan yang membara dan keimanan yang tak 
tergoyahkan; mengulang-ulang pekikan Mujahidin yang gagah perwira : ALLOHU AKBAR, MATI 
Dl JALAN ALLOH ADALAH CITA-CITA KAMI YANG TERTINGGI. ~AI-Akh fulan fakkallohu asroh~ 



4 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



Private Messages 



Jahizuna GnuPG Encryption Web Service v2.0 (beta5) 

http://www.jahizuna.com/contact dan kirim dengan menekan tombol Encryp & Send Email 



GnuPG 



BEGIN PGP PUBLIC KEY BLOCK 

Version: GnuPG v2.0.17 (MingW32) 

mQENBE++tkwBCACwaVHZ8NTTngdssp8/8 6VSnO4 0NN9m6pvWIIR4N5xUT6+CgnZE 
Crj3uNBykCFuZvh4ouDvmYNDKXDkVlsAx5GZnIPVyI/CH+udtNZWE3oE5ptRxHmF 
/QxEYEPYhZPvmM9EYiWfL7REvc/jNWgqImZIVcLrg2sOMtFmAuXDIFwuineuhIbA 
9zNnqjYO6p0EnL7 97MTbr7 4jQTQwAST9Eo+hHGC+/FzglS84hEpClC8 9L4yWfpea 
tjRN2ZHJtQCHllwirorU9+xd62LUWswxhlDooAlPZ5VwRf J/wtUWmrpXvWQ2pPJb 
UbQlAJDrfGYXC9wiDk+0Dyh/5tINf J/zKXi5ABEBAAG0KUlha3RhYmFoIEphaG16 
dW5hIDxqaHpyb3NhaWxAZmFzdGlhaWwuZmO+iQE+BBMBAgAoAhsDBgsJCAcDAgYV 
CAIJCgsEFgIDAQIeAQIXgAUCT7 63pQUJAS03BAAKCRAGm6e5 7545hwvfCACdWBRC 
uoKEurs9qqshIRCHXIdaIjZ6JnpEiREzt7fcZJOottS+xXldvuf JFXCWFrT+SMlD 
Qhtq958bK6MK9WlzTsRlFcl6tF4plXgcpICnE3igVDh7c6aSFlLEbNzmBYNpQ4wR 
SEnU2ZMS6lFQgJZwV/UyXi7Tj JUaOHEHRWuqHxKG8mGeA/ZVtAX7s/s03AzmSeKc 
Pl2DcYFUyObhoGkHumQwThChGmX2apC6vsSFHrBNMHMVEtOkPGbVQpJLcqqYA6KR 
p311L6TMuSFzezhL+8fvKABzye/j/cb30YTT8tVIAWkAMgYWfktYIkuMgyiLnUxM 
sQJlAKY3bithmLXtuQENBE++tkwBCADkAqn80YCGUWHde/zD9ce4 4Lb983x8yJ/X 
tAFfivP+jySQt2nFsB0Uld9ViYJXE0RR/0A4Nl/SEybIxqDFQXZmw5/BSwPpQaP8 
sZwWBGHgqZ4 4xElPFChAofxeiZf2gPpD2 6qfa3pZAO4jp0q9i382 0PzGxlteUBVc 
3S+aiVNqj6OnPUekvcVYm0T8 9q3 6vJOo+tJLy6RrJUctXKBDaBrlWsglO+PbAcJm 
EgcYDP9V/Xpau/qeb7BpLHmbdr9tImOWODVZoIKmG4AP4bh4 7oFVZ/lmPPfom6Ql 
9ZNCZ6b2 80R8tSkiuimHX6qF+9NTj3MFGuCNllagmU+eEn2NC0U7ABEBAAGJAR8E 
GAECAAkFAk++tkwCGwwACgkQBpunue+eOYfUywf/acMRs4 2q4EkezaZobdVwyNtv 
uTnDxl2WElwVqi4puvm4oLE2d0 4iV7xphLVcVt04Tr61adOnJSk3Z8iRulmKzQlX 
07B53kERHnYUQv3fW5msIinljPgQi6Cbk/h7m3Gw2dWR7T9asQPV/2T4 67ytLWFn 
PgN3Ylc3eWoYSFCq+g4q5k2t/HQQeV8 6kysYrhec+NztqRMw58fXQuMmizIbGTPh 
hGSvlRpCve521weAWlhGLPIiiWKlklIm8zZxBsRa5qmgyuGM7N5WRWbKXQyZuTRJ 
kRwZC/7HuSlgBRXuE5IxIWUTpfk9xM0YADYunA0Fx/RhC0L8h7OX5Rmq7 9nhQg== 
= PDnl 
END PGP PUBLIC KEY BLOCK 



5 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



Al-Ekhlaas Network ASRAR El Moujahedeen V2.0 

# Begin Al-Ekhlaas Network ASRAR El Moujahedeen V2 . Public Key 

2048 bit 

pyHInihoZVAJlbDvlhwGRUEbB6ZEmncQUiaMuq8K8GBV65Jlz3 
nl8 7qtOiQyx511CseR/viRIEHMJW6fqL10d/4RyT7 4 2ArK4uGQ 
++nCJyJT4Zof/iqbsM/bORs/tzXBqxF++BSZBZId/6uHyk6u3c 
BuHNBEdzSmRkswGP5pXN9B5eOK43UsxahMcgO/GQlMYvfnJeJP 
WHUObljv+2N6lTv3 6exEoyptumZPqS7Se2lygx4e+dpuXECvve 
du7 7+c6vRuTrJD9N7fxhMfvz/u+tE2t/x7Z4XNIYLqnfbG6GYv 
7jvIf0QzprpvQjMnNdtXel69fKNe72FfFQaeLY9LRIvp2gTgas 
cMKFPANBqSNFlHN8dnIIS05+fHHDJB08fOtxS8mfYKFNbz9q+b 
oDpWbg+UVgF3sFBrYtClHB7bznTlQGJaTR2ANrdo9y3WBgs4eG 
b4Rk82vE7FZI4fbeChFC09fA7zvOi5IUcQnvVrCGc2 4E4u/eBF 
YkOQa4NZpEiRravx6u8WLkq4n5pxwzgRa7iEuXWjlw== 

# End Al-Ekhlaas Network ASRAR El Moujahedeen V2 . Public Key 

2048 bit 



6 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



Lisensi Ringkas 

Antum sangat disarankan: 

• Berbagi — menyalin, mengumumkan, dan menyebarkan karya ini wa 
jazakumulloh khoiron 

Antum diperbolehkan: 

• Menggubah — mengadaptasi karya ini; memperbaiki terjemahan, merubah 
heading, menukil sebagian atau keseluruhan dan konversi format dokumen. 

Sesuai ketentuan berikut: 

• Atribusi — Antum harus menyebutkan sumber atas karya ini yaitu Maktabah 
Jahizuna, Jahizuna Publishing, Maktabah At-Tauhid wal Jihad atau 
www.jahizuna.com (tetapi tidak dengan cara seakan-akan kami mendukung 
Antum atau penggunaan Antum terhadap karya tersebut). 

• Data Sejarah — lnformasi gubahan harus disertakan dalam dokumen. 

• Nonkomersial — Antum tidak diijinkan menggunakan karya ini dan 
adaptasinya untuk tujuan komersil atau kepentingan sempit kelompok. 

Dengan pemahaman bahwa: 

• Pengesampingan — Ketentuan apa pun yang disebut di atas dapat 
dikesampingkan jika Antum mendapat izin dari kami. 

• Hak Lain — Perhatikan hak-hak berikut ini: 

1. Hak moral penulis; 

2. Hak pihak lain yang mungkin ada di dalam karya ini atau di dalam cara 
penggunaan karya ini, seperti hak mengumumkan/memperbanyak atau 
hak privasi. 



7 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



Pengantar Penerbit 



Bak manusia yang kehausan, padahal dihadapannya terhidang sekian pilihan minuman. Amsal 
itu bisa jadi pas untuk menggambarkan potret kaum muslimin saat ini. Mereka sangat 
membutuhkan sumber literatur yang bisa memenuhi kebutuhan rohaninya akan ilmu dien 
terutama al-jihad. Namun tidak serta merta kebutuhan itu bisa terpenuhi dari kitab-kitab yang 
ada. Bahkan tidak jarang kitab-kitab atau literatur yang tersedia kurang memuaskan hati yang 
penyebabnya berkaitan dengan isi yang tidak mencocoki ilmu al-jihad itu sendiri. 

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Alloh ta'ola karena berkat rahmat, hidayah dan inayah- 
Nya kami dapat menyelesaikan terjemahan kitab Masa'ilu min Fiqhil Jihad Bagian ke 2 karya 
Syeikh Al-Mujahid Abu Abdillah Al-Muhajir /akkallohu asroh, guru panglima besar Abu 
Mus'ab Az-Zarqowi rohimahulloh sekaligus ulama ahlu tsughur terkemuka yang kini ditawan 
di Guantanamo oleh kafir harbi Amerika dan aliansi. 

Bagian dua ini akan membuka mata kita, betapa mahalnya harga seorang muslim dan betapa 
remehnya status darah dan harta seorang kafir harbi, kita juga akan disuguhi hukum-hukum 
berkaitan dengan definisi kafir harbi, syarat-syarat qishosh, fai yang hampir-hampir 
pembahasan ini tidak kita dapatkan di kitab-kitab lain. Pemaparan yang sistematis, mudah 
dipahami dan tidak bertele-tele merupakan nilai tambah kitab karya Syeikh Abu Abdillah 
fakkalohu asroh yang sungguh mempermudah pembaca dalam memahami fiqih ini. 

Karena asingnya pembahasan, kami berinisiatif memberi heading bertajuk agar pembaca 
semakin mudah mentelaah. Untuk alasan kemudahan telaah pula, kami meletakkan nomor 
halaman kitab asli versi digital keluaran Mimbar At-Tauhid wal Jihad pada terjemahan ini 
sehingga tholibul ilmi dapat cepat mencocokannya dengan kitab asli. Nomor halaman kami 
tandai dengan [h.no]. 

Pada akhirnya kami berharap, bahwa terjemahan ini dapat dijadikan sebagai rujukan utama 
kitab-kitab fiqih jihad yang sudah ada. Kami juga meminta apabila terdapat kekurangan dari 
segi apapun (pastinya ada), kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami juga 
mengharapkan adanya kritik yang konstruktif maupun saran-saran dari para pembaca 
budiman. 

Kami ucapkan selamat menikmati karya terjemahan ini. Semoga menjadi amal jariyah yang 
senantiasa membawa berkah dan manfaat di dunia dan akhirat bagi penulis, penterjemah, 
penerbit, distributor, pembaca muwahid dan siapapun yang turut menanam saham amal 
jamai\r\\. Amin. 



Di Pondok kecil di tepi pantai, 23:34 Rojab 1433H 
Jahizuna, Bekal Inspirasi Kaum Beriman 



8 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



Daftar Isi 

1. Pembagian Penduduk Dunia 10 

2. Kemusyrikan Sebab dicabutnya Al-lshomah 13 

3. Perang adalah Hukuman atas Kekafiran 15 

4. Hingga Kekafiran Lenyap dari atas Muka Bumi 17 

5. Kemusyrikan Sebab dicabutnya Al-lshomah, Dalil Al-Hadits 20 

6. Tanpa Al-lshomah, Darah dan Harta Orang Kafir Mubah Mutlak 23 

6.1. Ijma Ulama atas Kemubahan Mutlak darah orang Kafir 23 

6.2. MazhabHanafi 24 

6.3. MazhabMaliki 25 

6.4. MazhabSyafi'i 26 

6.5. MazhabHanbali 27 

7. Status Darah Orang Kafir Hanyalah Limbah Layaknya Darah Babi 29 

7.1. Hukum Bagi Orang Kafir /-/arb/ Tanpa Memiliki Jaminan Keamananyang 
Dipergoki Oleh Kaum Muslimin di Darul Islam 29 

7.2. Perihal Makanan Darurat untukSurvive 30 

7.3. Beberapa Permasalahan Lain 31 

8. Catatan Penting Definisi Kafir Harbi 32 

9. Kesimpulan 34 



9 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



1. Pembagian Penduduk Dunia 

[h.29] Setiap orang kafir yang tidak dijamin keamanannya oleh orang Islam baik dengan 
diimmah 1 , hudnah (gencatan senjata) atau al-aman (jaminan keamanan) maka tidak ada 
perlindungan pada darah atau hartanya. Hukum ini merupakan sebuah kebijakan Islam yang 
di tetapkan kaum muslimin dari abad ke abad sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Al- 
Quran Al-Karim. Ketetapan ini adalah kesepakatan para ulama dan tidak ada W7/7a/(perbedaan 
pendapat) di dalamnya. 

Dan telah dinashkan dengan sangat jelas yang nashnya tidak mengandung muhtamal 
(kemungkinan-kemungkinan) berupa takwil bahwa hukum asal bagi orang kafir adalah tidak 
ada perlindungan bagi mereka. 

Alloh subhanahu wata'ala berfirman: 

I_xi! LiipU _g_Ju \ AjLiJI L y'j^ <3 U**j***' t ^ t UJ-V^~*JI iy* ^w^Ip /ji~u\ (J,| ^j-^jij **^ <\r° **|ri 
!)l jZ*$\ &£l \y. J&\ Jl ^i-jj aJJI ^ OlSlj <^Y^> jiJl^Jl ^sp- 4l)l !>fj 6 aJJI t^cii _^p 
(_$issjt^ -1p I3<Jl l^lpli •jLjij 01 5 '•••.■•■ a— nj **?>- ig-J ^-*y ^^ ''•■"' ^y^jS ''••"' UJ-Lr*"^^ /j-* s-lSj. ^l 

T# *Jl i_jli*J UiaS/jJJl _io« O 4JJ| 



(inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Alloh dan Rosulnya kepada orang-orang 
musyrik yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka), (2) maka berjalanlah 
kamu (kaum musyrikin) di bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa kamu tidak dapat 
melemahkan Alloh dan sesungguhnya Alloh menghinakan orang-orang kafir (3) dan satu 
maklumat (pemberitahuan) dari Alloh dan Rosulnya kepada umatnya pada hari haji akbar, 
bahwa sesungguhnya Alloh dan Rosulnya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Kemudian 
jika kamu (kaum musyrikin) bertobat maka itu lebih baik bagimu dan jika kamu berpaling 
maka ketahuilah bahwa kamu tidak dapat melemahkan Alloh. Dan berilah kabar gembira 
kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. (Q.S. At Taubah : 
1-3) 

Ayat ini adalah bagian awal surat Al-Baro'ah yang tidak diawali dengan basmallah. Dalam 
Tafsir Al-Baidhowi dikatakan: Sesungguhnya tasmiyah (penyebutan basmallah) ditiadakan 



Telah di sepakati oleh para imam bahwa syarat dzimah adalah seorang Yahudi, Nasrani dan Majusyi. 
Selain dari mereka ini, para ulama berbeda pendapat apakah boleh dijadikan dzimah atau dibunuh. 
Lihat Al-Mughni Ibnu Qudamah 9/266, 267). 



10 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



pada surat ini karena turun berkenaan dengan dicabutnya rasa aman kepada orang kafir, 
sedangkan basmallah mengandung perlindungan rasa aman. (Tafsir Al-Baidhowi 3/126) 

Maka setiap kaum muslimin yang tidak memberikan jaminan keamanan kepada orang kafir 
apapun millah mereka, bangsa mereka dan negara mereka baik dengan diimmah, hudnah 
atau aman, maka tidak ada al-ishomah (perlindungan darah dan harta) dan tidak ada aman 
baginya. 

[h.30] Telah berkata Ibnul Jauzi rohimahulloh, telah berkata para ahli tafsir: Al-Baro'ah yaitu 
terputusnya al-muwalah (loyalitas), dihapusnya al-ishomah dan ditiadakannya al-aman. (Zadul 
Masiir 3/393, Ahkamul Quran oleh Al-Jashosh 4/264) 

Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata: Maka ditetapkan perkara orang kafir setelah turunnya 
surat Al-Baro'ah ini kepada tiga kelompok: 

• Orang kafir harbi yang di perangi. 

• Orang kafir yang terikat perjanjian (ahlul ahdi). 

• Orang kafir diimmi (ahlu diimmah). 

Kemudian ketika sebagian ahlul ahdi atau ahlu as-sulhi (genjatan senjata) condong pada Islam, 
maka mereka terbagi menjadi dua kelompok: 

• Kelompok kafir yang tetap berkeinginan memerangi Islam dengan rasa takut. 

• Kelompok kafir yang menjadi ahlu diimmah. 

Maka penduduk dunia ini akhirnya terbagi menjadi tiga golongan: 

• Penduduk muslim yang beriman. 

• Penduduk kafir yang meminta keselamatan jaminan keamanan. 

• Pendudukkafiryang memerangi dengan rasa takut. (Zadul Maad 3/160) 

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan, penduduk dunia terbagi menjadi tiga kelompok dan 
tidak ada jenis penduduk keempat: 

Pertama: Penduduk Islam. 

Kedua: Penduduk yang tunduk, menyerah kepada Islam. Mereka berdamai dengan jaminan 
diimmah, hudnah atau aman. 

Dua golongan diatas darah dan harta benda mereka terjaga kecuali bila salah seorang dari 
mereka melakukan perbuatan yang menyebabkan darah atau hartanya menjadi halal yang 
diatur oleh hukum Islam. 

Ketiga: Penduduk selain dari kedua golongan diatas, maka setiap orang kafir yang hidup di 
muka bumi ini yang tidak masuk Islam serta tunduk pada Islam, dan tidak berdamai pelakunya 



11 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



baik dengan dzimmah,hudnah atau aman, maka dia termasuk kafir harbi tidak ada 
perlindungan baginya secara mutlak dari sudut pandang apapun dan kondisi apapun. 2 



Terdapat beberapa jenis orang kafir yang dilarang untuk diperangi dikarenakan terjaganya darah dan 
kehormatannya sehingga haram untuk ditumpahkan - namun di dalamnya ada sebab yang 
menggugurkannya - insya Alloh penjelasanya akan dijelaskan dengan rinci. 



12 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



2. Kemusyrikan Sebab dicabutnya Al-Ishomah 



Allah ta'ala berfirman: 

fl*^y?)l Ij^lSlj jju JlS U Xl^>y> *j5 I_A Ij-btSU A_ftj^y2>-U I_A«J_>j IjSjJT-l^S C-~l^- _£^r~~«->l ljJ_~S_s 

<^o ^jJl^^j jjip alll 01 6 ^L^ Ijki .-$1 IjjTj 

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di 
mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di 
tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, 
maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha 
Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. At-Taubah: 5) 

Firman Alloh ta'ala bg£&\ (orang-orang musyrik) yaitu penjelasan hukum yang berkaitan 
dengan sifatnya. ijlLl- (maka bunuhlah mereka) yaitu hukum yang menjadi sebab dari suatu 
pekerjaan yang disifati (musyrikj. Ini menjadi sebab ditegakkannya hukum. (Al-Mahshul karya 
Ar-Rozy 4/524, Al-lbhaj 2/305, Irsyadul Fuhul 362, Al-Masudah 364 dll). 

Maka o^ili (kesyirikan) adalah sebab perintah memerangi mereka. 

Dikuatkan dan diperjelas dengan firman-Nya setelah perintah untuk memerangi mereka: 

<^o \hjd\h> l^ jy^ -lll 5l 6 '^L^ Ijki -isjjl IjjTj S"&aJl IjilStj ytf jU 

Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan 
kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 
(Q.S.At-taubah: 5) 

Maka dhohir ini adalah perintah untuk memerangi dengan sebab kekafiran dan kesyirikan. Bila 
mereka orang-orang kafir dan para musyrikin bertobat dengan masuk Islam serta komitmen 
kepada hukum-hukum (Alloh dan Rosul-Nya), maka terlindunglah dan tertahan mereka dari di 
perangi sebagaimana firman Alloh ^L-^jki (berilah kebebasan kepada mereka) dan dalam 
ayat lain; 

^.aJi j jj2\&$ (maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama). 

[h.31] Ayat-ayat ini adalah nash dhohir yang mencabut perlindungan terhadap orang-orang 
kafir yang tidak mau tunduk dan tidak masuk Islam. 



13 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 

Telah berkata Ibnu Al-Arobi rohimahulloh: u^iiJi ijIiiiS (maka bunuhlah orang-orang 

musyrikin); Walau lafal ayat ini secara khusus ditujukan kepada orang-orang kafir penyembah 
berhala namun secara umum hakekatnya ditujukan kepada seluruh orang kafir. Dan lafal yang 
tetap (asal) kembali kepada orang musyrik Arab yang terikat ahd (perjanjian) bagi mereka 
sendiri. Kesimpulannya, orang-orang kafir dari golongan ahli kitab atau yang lainnya diperangi 
oleh sebuah sebab yaitu kesyirikan yang mereka lakukan, kecuali ada nash lain untuk tidak 
memerangi mereka dalam surat ini. (Ahkamul Qur'an 2/456) 

Dan Alloh berfirman : 

^rn r^jsJi^ ...S*if j^3jtu«3 ufllif ^jSjliii \j&$... 

" dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu 

semuanya..." (Qs At-Taubah 9 : 36) 

Maka keterkaitan hukum : ijtii (perangilah) pada sifat &sp$ (musyrikin): bermakna syirik 
menjadi sebab hukum . Maka orang yang musyrik tidak ada perlindungan baginya. 



14 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



3. Perang adalah Hukuman atas Kekafiran 

Alloh berfirman : 

<^Y <\ ^l^ 5^U* ^ij jg ^p Sjjj-I IjiiAJ Ji~ Ol&Jl lyjt jjiJl 

" Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan tidak beriman pula kepada hari 
Akhir dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Alloh dan Rosulnya. Dan 
tidak berdien dengan dien yang hag dari golongan ahli kitab sampai mereka membayar jizyah 
sedang mereka dalam keadaan tunduk." (Qs. At Taubah 9 : 29) 

Firman Alloh setelah memerintahkan perang: "Orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh 
dan tidak beriman pula kepada hari Akhir dan mereka tidak mengharamkan apa yang 
diharamkan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Dan tidak berdien dengan dien yang hag", adalah 
penjelasan penyebab dicabutnya jaminan perlindungan terhadap orang kafir seluruhnya. 

Berkata Al-Qurthubi rohimahulloh: Alloh telah memerintahkan untuk memerangi orang kafir 
karena sifat kafir mereka ini. Dan khususnya ahli kitab yang disebutkan bahwa mereka 
dimuliakan dengan sebab kitab yang diturunkan kepada mereka, dan keadaan mereka yang di 
anugerahi ilmu tauhid, diutusnya kepada mereka para Rosul, syari'at-syari'at dan ajaran- 
ajaran, dan khususnya telah dikabarkan kepada mereka tentang nabi terakhir Muhammad 
shollalohu alaihi wa sallam, ajaran beliau dan ummat beliau. Ketika mereka mengingkarinya, 
menjadi penguat hujjah kepada mereka, dan besarnya dosa yang mereka dapatkan, maka 
Alloh memberitakan akan keadaan mereka untuk diperangi dan mengambil jizyah dari mereka 
sebagai ganti dari ancaman diperangi, dan ini yang shohih. 

Telah berkata Ibnu Al-Arobi (lihat Ahkam Al-Qur'an karya Ibnu Al-Arobi 1/156): Aku telah 
mendengar Abu Al-Wafa Ali Bin Uqoil dalam majelis diskusi membaca ayat tersebut dan dia 
berhujjah dengannya. Dia berkata : ijtii (perangilah) maksudnya yaitu perintah untuk 

menghukum. Firman-Nya j^0 ^jJi (orang-orang yang tidak beriman) sebagai penjelas dari 

perbuatan dosa yang mewajibkan diterapkannya hukuman. Firman-Nya _^°i 0\ % (dan tidak 

beriman pula kepada hari akhir) adalah sebagai penguat atau penegas dari dosa disamping 
dosa tidak beriman kepada Alloh. Kemudian firman-Nya ii^ijj ilii fj- u by£ % (dan mereka tidak 

mengharamkan apa yang diharamkan oleh Alloh dan Rosulnya) yaitu sebagai tambahan dari 
perbuatan dosa yang menyelisihi amal perbuatan. Kemudian Dia berfirman ^i-\ &> b&& % (Dan 

tidak berdien dengan dien yang hag) adalah isyarat dari penguat perbuatan dosa maksiat yang 
disebabkan karena mereka berpaling dan pembangkangan dari Islam. Lalu Dia berfirman &$& 

c>\&1\ ijjjt (dari golongan ahli kitab) Penguat hujjah bahwa mereka membangkang dari perkara 

15 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



yang diwajibkan kepada mereka (dari Alloh dan para rosul-Nya) dalam kitab taurat dan injil. 
Firman-Nya J$jii \Jaii Ji~ (sampai mereka membayar jizyah) penjelas maksud yang menunda 

hukuman yang diberlakukan atas mereka dan membayar jizyah sebagai ganti hukuman. (Tafsir 
Al-Qurthubi 8/109-110) 

[h.32] Alloh berfirman: 

h&l\ ii sii 5i i^Ipij o &!* ^j ijA^Jj jilsCJi 52 jJjjIj ^ili ijlji* ijliT &A \j$ l: 

^ur :^l)> 

"Ho/ orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan 
hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah 
bersama orang-orang yang bertagwa". (Qs At Taubah :123) 

Maka firmannya ^ii&i ji (orang-orang kafir): penjelasan keterkaitan perintah untuk berperang. 
Alloh berfirman: 

o > |.|'.'. S |, ,?•, |»-?i „ *, -tt *"' -tl- ■•"•■ • t' > -' I '• •' • * ' ' ' \- • I J^ --* i •- o > f_*|„ 

wUP «J~aJjuJ-> _J '••...•■' JJLaJI •_« J_c~l 4JJ_4JU '•.....■' -__j_>r»>-l t-_-j~ > - •_- j»_*o5r^-l» ,^J~a^>_L--4j ',_ — --■ «JkaJ__9l« 

<^ <U :»>Jl^> (jii 1 ^ 1 *-£■ ^S^ p-Aj^tS j^Iili jU O 5J pjkli. J>- cJ_il Jbj-L-Jl 

"Don bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat 
mereka Telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari 
pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka 
memerangi kamu di tempat itu. jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), Maka Bunuhlah 
mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir". (Qs Al Baqarah: 191) 

Maka perang adalah sebagai hukuman atas kekafiran. 

Dalil-dalil yang telah utarakan tadi, semuanya tentang pengkaitan hukum dengan sifat yang 
sifat tersebut menjadi ilat (sebab diberlakukannya hukum). Maka ketika hukum dikaitkan 
dengan kemusyrikan, kekafiran dan kemurtadan serta tidak berdien dengan dien yang hak, 
maka telah diketahui semua ini menjadi ilat dan ilat ini menjadi pengantar untuk memerangi 
mereka. Singkatnya setiap orang yang tidak berdienul Islam dan tidak memiliki perlindungan 
keamanan maka dia halal darah dan hartanya. Semua orang kafir yang tidak memiliki 
perlindungan keamanan, darah dan hartanya tidakterlindungi. 



16 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



4. Hingga Kekafiran Lenyap dari atas Muka Bumi 

Alloh berfirman: 

"Don perangilah mereka itu, sehingga tidak adafitnah lagi dan (sehingga) dien itu hanya milik 
Allah..." (Qs Al- Baqarah : 193) 

Alloh berfirman: 

<^r<\ :JiuVi^... aL il^jJi 5j&j Si» 5j5C c v Ji- (J-*A"^j 

"Don perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya dien itu hanya untuk Allah..." 
(Qs Al Anfal : 39) 

Dari Ibnu Zaid rohimahulloh berkata: Firman Alloh: SlS 5/2 iJ j^- ^jMj fdon perangilah mereka 

sampai tidak ada fitnah) berkata: "Sampai tidak lagi kekafiran" dan firmannya, *JJ il^lJi 5>£y 

(don supaya dien itu hanya untuk Allah) maksudnya: tidak boleh kekafiran itu ada disisi dien 
kalian . (Tafsir Ath-Thobari 9/248, 249) 

Berkata Ibnu Al-Arobi rohimahulloh: Masalah ketiga, dalil ini menunjukkan untuk memerangi 
mereka karena sebab kekafiran. Firman Alloh Jla bp; H J*- (sehingga tidak adafitnah lagi) maka 

tujuan memerangi mereka sampai tidak ada kekafiran dimuka bumi dan kekafiran adalah 
sebab utama untuk memerangi mereka. (Ahkam Al-Qur'an 1/155) 

[h.33] Berkata Al-Qurthubi rohimahulloh ^Mi (Dan perangilah mereka): Alloh 
memerintahkan untuk memerangi tiap-tiap orang musyrik disetiap tempat, ini adalah 
pendapat ulama yang memandang ayat ini sebagai penghapus oyof menahan diri. Sedangkan 
ulama yang memandang ayat ini bukan sebagai ayat penghapus menafsirkan dengan: 
Perangilah mereka yang mendahului memerangi kalian sebagaimana dalam ayat ^tijIstS jii (Jika 
mereka memerangi kamu). Menurut penelitianku, pendapat pertama lebih kuat. 

Alloh telah memerintahkan untuk memerangi orang kafir secara mutlak tanpa mensyaratkan 
menun ggu serangan dari mereka. Dalilnya adalah firman ta'ala: 

iS £ , y, 

4jJ ^jjl jjSsij 

"dan supaya dien itu hanya untuk Allah." 

Serta sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam : "Aku diperintahkan untuk memerangi 
manusia sampai mereka mengatakan laailaahaillallah (tidak ada sembahan yang berhak di 
ibadahi kecuali Alloh). " 



17 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



Ayat dan hadits ini menunjukan sebab peperangan karena adanya kekafiran . Petunjuk tersebut 
terdapat pada firman il» b£s "i jU- maksudnya: "kekafiran". Maka tujuan perang adalah untuk 
melenyapkan kekafiran. Inilah yang tampak jelas dalam nash. 

Berkata Ibnu Abbas, Qatadah, Ar-Robi, As-Sadi dan selainnya: Al-fitnah di ayat ini maksudnya 
adalah kesyirikan dan segala ancaman serta gangguan yang menimpa kaum beriman. (Tafsir 
Al-Qurthubi 2/354) 

Alloh berfirman : 

\ "l '.tzjjv\'&> \J O yAl~j «I ,i j mI"' aj* JjwLi tfH t\y f%& (_>' OaP-AJlC»! 

"Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu 
akan memerangi mereka sampai mereka menyerah." (Qs Al - Fath :16 ) 

Makna ayat ini adalah: Kamu akan diajak untuk memberi pilihan; perang, masuk Islam atau 
tundukdengan hukum Islam. 

Ayat ini menetapkan dicabutnya al-ishomah dari setiap orang kafir. Al-lshomah akan 
didapatkan kembali dengan masuk Islam atau tunduk pada Islam dan tunduk pada kaum 
muslimin. 

Berkata Al-Qurthubi rohimahulloh: Firman Alloh 6 jjA^ jt ^J^ (kamu akan memerangi 

mereka sampai mereka menyerah); Hukum ini ditujukan bagi golongan kafir yang tidak 
dikenai jizyah. Pilihan mereka hanya dua; perang atau masuk Islam dan tidak ada pilihan 
ketiga. 

Makna 'aw' dalam b^4 ji yaitu sampai mereka masuk menyerah pada Islam. Penterjemahan 

sampai disini seperti perkataan ^r^ ^ <-^ (makanlah sampai kenyang). 'Aw tasyba' artinya 
sampai kenyang. 

Seperti juga dikatakan dalam syair: 

l;i*ii ^je^i jl ISCU Jyi lil dX~& diJ V aJ cJii 

Aku katakan kepadanya jangan buat matamu menangis 

Ini hanya tentang memimpin kerajaan sampai ajal menjemput, disitulah ada uzur. 

Berkata Az-Zujaj: Firman Alloh bji^M ji bermakna sampai mereka menyerah (masuk Islam 
atau tunduk pada Islam) tanpa diserang. (Tafsir Al-Qurthubi: 16/273) 

Berkata Ibnu Katsir rohimahulloh: Firman Alloh bj^M ji ^jtU; bermakna telah disyariatkan 
bagi kalian untuk menjihadi mereka dan memerangi mereka. Hukum ini terus berlaku atas 
orang-orang kafir dan bagi kalian turun pertolongan untuk memerangi mereka. (jyd^J) 

Sampai mereka masuk kedalam dien kalian tanpa perang tapi masuk karena pilihan mereka 
sendiri. (Tafsir Ibnu katsir 4/191) 

[h.34] Alloh berfirman: 



18 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 

*J4i /x>- %\li \3>\i JJLi lli UU Jjlj^Jl IjJ-di I-AjijuiJI lil jll^- ^U^Jl tl^s^ l^yiS/j, JJl «JLaJ liU 

^t :ju^ 6 U3I3JI 4>jil 

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pancunglah batang leher mereka. 
Sehingga apabila kamu telah banyak membunuh mereka maka tawanlah (mana-mana yang 
hidup) dan ikatlah mereka dengan kukuhnya. Setelah selesai pertempuran itu maka 
(terserahlah kepada kamu) samada hendak memberi kebebasan (kepada orang-orang 
tawanan itu dengan tiada sebarang penebusnya) atau membebaskan mereka dengan 
mengambil penebusnya. (Q.S Muhammad : 4) 

Beberapa tafsiran dari firman-Nya ta'ala ujij/t ^jii £5=3 >p- (setelah/sampai selesai 
pertempuran): 

Berkata Ibnu Katsir rohimahulloh : berkata Qatadah; maksudnya hingga kesyirikan lenyap dari 
muka bumi. Ayat ini semisal dengan firman Alloh & i& ^.jJi b£i' } &» b£s H Ji~ '^Ji^i (Dan 
perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah dan (sehingga) menjadilah agama itu 
semata-mata kerana Allah) 

Ahli tafsir lain menafsirkan u#/f yaitu awiarul muharibin; mereka adalah kaum musyrikin yang 
bertaubat masuk Islam. (Tafsir Ibnu Katsir 4/174 ) 

Maka kekafiran menjadi sebab mubahnya (bolehnya) darah dan harta mereka. Mubahnya dua 
perkara ini merupakan aturan Alloh dan hukum baku yang tidak ada jaminan perlindungan 
terhadap keduanya kecuali dengan masuk Islam, diimmah, hudnah atau aman. 



19 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



5. Kemusyrikan Sebab dicabutnya Al-Ishomah, Dalil Al-Hadits 

Adapun dalil-dalil dalam hadits atau sunnah yang menjelaskan dicabutnya al-ishomah bagi 
orang kafir, diantaranya : 

Bersabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, "Aku diperintahkan untuk memerangi 
manusia sampai mereka bersaksi tidak ada sembahan yang hag kecuali Alloh dan Muhammad 
utusan Alloh, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Maka bila mereka melaksanakannya 
maka terjagalah darah dan harta mereka dan perhitungan disisi Alloh. "(HR. Bukhori 1/17, 
Muslim 1/53, hadits dari Ibnu Umar semoga Alloh meridhoinya) 

Dan hadits ini adalah nash yang menunjukkan hilangnya jaminan perlindungan darah dan 
harta seluruh orang kafir, sebagaimana telah ditunjukan hadits tentang tidak adanya jaminan 
perlindungan sebelum mengumumkan keislaman dan komitmen dengan hukum-hukumnya. 

Dan dari Abu Hurairoh bahwa Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda pada hari 
perang Khaibar, "Akan diserahkan bendera ini kepada seseorang yang sangat mencintai Alloh 
dan Rosulnya. Alloh membukakan kemenangan Islam dengan kedua tangannya". 

Berkata Umar bin Khaththab semoga Alloh meridhoinya: Tidak ada kepemimpinan yang lebih 
aku cintai kecuali pada hari itu. Maka akupun memajukan badanku berharap aku dapat 
membuka kemenangan bagi Islam. 

Berkata Umar: Kemudian Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam memanggil Ali bin Abi Tholib, 
lalu diberikan panji tersebut kepadanya sembari bersabda, "Berjalanlah dan janganlah kamu 
menoleh hingga Alloh memberikan kemenangan kepadamu." 

Berkata Umar: Maka Ali pun berjalan maju lalu berhenti, tanpa berpaling Ali bertanya dengan 
kuat: "Wahai Rosululloh diatas apakah aku memerangi manusia ?" Bersabda beliau shollallohu 
alaihi wa sallam : " Perangilah mereka sampai mereka bersaksi tidak ada sembahan yang hag 
kecuali Alloh, dan Muhammad utusan Alloh. Jika mereka melaksanakannya maka terjagalah 
mereka darimu darah dan harta mereka kecuali dengan hagnya . Dan perhitungannya ada 
disisi Alloh. " (Muslim 4/1871) 

[h.35] Makna hadits ini seperti hadits yang lalu, maka kedua dalil ini adalah nash yang 
gamblang tidak boleh ditakwil-takwil mengenai dicabutnya al-ishomah bagi penduduk non 
muslim, al-ishomah hanya diperoleh dengan keislaman. 

Dari Anas Bin Malik rodhiyallohu 'anhu berkata, bersabda Rosululloh shollallohu alaihi wa 
sallam: Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi tiada illah yang 
hak kecuali Allah. Jika mereka mau bersaksi, shalat dengan shalat kita, menghadap kiblat kita, 
dan menyembelih sembelihan kita, maka darah-darah dan harta-harta mereka diharamkan 
untuk kita kecuali dengan hak dan perhitungannya disisi Allah. (Muslim 4/1871) 

Dan hadits-hadits yang membahas perkara ini sangat banyak. 



20 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



Ibnu Abi Syaibah rohimahulloh telah memberi tajuk hadits ini dengan: Perkara terlindungnya 
darah manusia dan seseorang yang terbebas dari pembunuhan. (Mushonit karya Ibnu Abi 
Syaibah 5/556) 

Pada tempat lain beliau memberi tajuk: Perkara yang mencegah seseorang untuk dibunuh, 
siapa saja mereka dan perkara yang darah seseorang boleh ditumpahkan. (Mushonir karya 
Ibnu Abi Syaibah 6/481) 

An-Nasai memberi tajuk dengan: Bab diharamkannya darah. (Al- Mujtaba' 7/75) 

Ibnu Majah memberi tajuk dengan: Bab ditahannya darah dan harta seseorang yang berikrar 
Laailaaha illallah. { As-Sunan 2/1295) 

Imam Ad-Daruquthni memberi tajuk: Bab diharamkannya darah dan harta-harta mereka 
apabila mereka bersaksi dengan dua kalimat syahadat, mendirikan sholat, dan menunaikan 
zakat. (Sunan Ad-Daruquthni 1/231) 

Dan banyak sekali imam-imam lain yang membuat tajuk membahas masalah ini. 

Maimun Bin Siyah telah bertanya kepada Anas bin Malik semoga Alloh meridhoinya berkata: 
Wahai Abu Hamzah apa yang mengharamkan darah dan harta seorang hamba? 

Anas Bin Malik menjawab: Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali 
Alloh, menghadap kepada kiblat kami, sholat seperti sholat kami, memakan hewan 
sembelihan kami maka dia muslim, baginya mendapat haq sebagai seorang muslim, dan 
baginya kewajiban atas setiap muslim. (Bukhori 1/153) 

[h.36] Telah berkata As-Sarkhosi rohimahulloh bahwa syariat hanya menetapkan sebuah 
perkara atas terjaminnya harta dan nyawa seseorang, yaitu perkara yang disabdakan Nabi 
shollallohu alaihi wa sallam; "Maka apabila mereka mengikrarkannya (kalimat syahadat), 
terjaga darah-darah mereka dan harta benda mereka." (Al-Mabsuth 10/52, 105) 

Berkata Ibnu Rusyd rohimahulloh: Asal dimubarikannya harta milik orang kafir untuk diambil 
disebabkan karena kekafiran, sedangkan keterjagaan harta ialah dengan Islam, sebagaimana 
sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam; "Maka apabila mereka mengikrarkannya 
(kalimat syahadat), terjaga darah-darah mereka dan harta benda mereka." (Bidayatul 
Mujtahid 1/293) 

Dan hadits dari Ibnu Umar semoga Alloh meridhoinya bersabda Rosululloh shollallohu alaihi 
wa sallam; "Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang sampai Alloh menjadi satu- 
satunya ilah yang hag diibadahi yang tidak ada serikat bagi-Nya, dan telah dijadikan reiekiku 
di bawah naungan tombak, dan telah di jadikan terhina orang-orang yang menyelisihi 
perintahku, dan barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka." 
(Hadits hasan Ahmad 2/50,92, Mushanit Ibnu Abi Syaibah 4/212, Syuabul Iman 2/75, lihat Al- 
Majmu 5/ 267, 6/49, berkata Adz-Dzahabi dalam As-Siyar 15/509 "isnadnya baik", dan hadits 
di riwayatkan oleh Abi Hurairoh semoga Alloh meridhoinya lihat As-Siyar 16/242) 



21 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



Maksud dari kehinaan dan kerendahan yang diterima orang kafir yaitu dicabutnya al-ishomah 
dengan dimubarikannya darah dan harta mereka. Inilah hukum syar'i bagi siapa saja yang 
menolak dan menyombongkan diri untuk masuk Islam atau menyerah. 

Hadits dari Buraidah semoga Alloh meridhoinya berkata: Apabila Rosululloh shollallohu alaihi 
wa sallam mengangkat seorang komandan pasukan atau komandan operasi patrol, beliau 
berwasiat agar bertaqwa kepada Alloh dan memelihara pasukannya dengan baik. Kemudian 
beliau bersabda, "Berperanglah denga nama Alloh, di jalan Alloh, perangilah siapa saja yang 
kafir kepada Alloh, berperanglah dan jangan melampaui batas, janganlah berkhianat, 
janganlah memutilasi mayat, dan janganlah membunuh anak-anak. Bila kamu telah 
menjumpai musuhmu kaum musyrikin, serulah mereka kepada tiga perkara -atau tiga pilihan-. 
Jika mereka memenuhimu maka terimalah mereka dan tahanlah tanganmu dari 
memeranginya, lalu serulah dan ajaklah mereka masuk Islam, bila mereka memenuhi 
seruanmu maka perkenankanlah mereka dan tahanlah tanganmu dari memerangi mereka.... 

Bila mereka menolaknya maka suruhlah mereka agar menyerah dengan membayar jizyah. 
Kalau mereka memenuhinya maka perkenankanlah mereka dan tahanlah tangan kalian dari 
memeranginya, jika mereka menolak membayar \izyah maka memohonlah pertolongan dari 
Alloh lalu perangilah mereka ". (Muslim 3/1357) 

Dari Ibnu Abbas semoga Alloh meridhoinya berkata: Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam 
bila mengirim pasukan berkata kepada mereka: "Berangkatlah kalian dengan nama Alloh, 
perangilah di jalan Alloh orang-orang yang telah kafir kepada Alloh ." (Musnad Abu Ya'la 
4/422, At-Tamhid 16/141) 

Hadits ini -sebagaimana hadits lainnya- dhohirnya menyatakan pencabutan al-ishomah. Al- 
Ishomah hanya bisa didapatkan oleh orang kafir dengan masuk Islam atau menyerah. 

[h.37] AI-Qorofi rohimahulloh berkata: Dhohir nash-nash diatas menggambarkan tahapan- 
tahapan dalam memerangi orang-orang kafir dan syirik... Sedangkan tahapan-tahapan inilah 
menjadi sebab hukum untuk memerangi mereka dan meniadakan sebab hukum yang lain. 
(Adz-Dzakhiroh 3/387) 

AI-Qorofi rohimahulloh juga berkata ketika menyampaikan tahapan penyebab jihad: 

Sebab pertama: Berdasarkan keberadaan aslinya yakni kewajiban asalnya yakni (jihad) 
ditegakan untuk menghilangkan kemungkaran berupa kekafiran karena kekafiran adalah 
kemungkaran yang terbesar, maka barang siapa yang mempunyai kemampuan untuk 
menghilangkan kemungkaran maka ini menjadi wajib baginya. (Al-Furuq) 



22 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



6. Tanpa Al-Ishomah, Darah dan Harta Orang Kafir Mubah Mutlak 



Para fuqoha dan ulama secara mutlak telah menyatakan mubahnya darah dan harta orang 
kafir yang tidak di jamin keamanannya oleh kaum muslimin. 

Al-lmam Asy-Syafi'i rohimahulloh berkata: Alloh menjaga darah dan harta seseorang karena 
keimanannya kepada Allah dan rasul-Nya atau perjanjian yang diberikan oleh kaum beriman 
kepada ahli kitab. Darah seorang yang telah mencapai baligh menjadi halal jika dia tidak mau 
beriman atau tidak ada ikatan perjanjian untuk mereka. (Al-Umm 1/257) 

Al-Qurthubi rohimahulloh berkata: Orang muslim bila bertemu dengan orang kafir yang tidak 
terikat perjanjian damai, dia boleh membunuh orang kafir tersebut. Jika si kafir bersaksi 
laailaaha illallah maka si muslim itu tidak boleh membunuhnya karena darah, harta dan 
keluarganya telah terjaga dengan keislamannya. (Tafsir Al-Qurthubi 5/338) 

Al-Khithobi rohimahulloh berkata: Menurut syariat Islam, orang kafir itu halal darahnya 
selama dia tidak tunduk kepada Islam. Bila dia masuk Islam maka terlindungilah darahnya 
sebagaimana darah kaum muslimin lainnya. Jika kemudian ada seorang muslim membunuhnya 
setelah dia masuk Islam, maka darah si pembunuh ini menjadi halal karena sebab hak qishosh 
sebagaimana halalnya darah orang kafir karena sebab hak dien. (Fathul Bari karya Ibnu Hajar 
12/189) 

Ibnu Qudamah rohimahulloh berkata: Jika sebuah kelompok murtad dan tidak mau taat 
kepada imam kaum muslimin (thoifah mumtaniah -edt), maka gugurlah jaminan perlindungan 
bagi nyawa dan darah mereka. Sebab tidak ada jaminan perlindungan bagi kafir asli apalagi 
kafir murtad, mereka lebih utama kemubahannya. (Al-Mughni 9/20) 

6.1. Ijma Ulama atas Kemubahan Mutlak darah orang Kafir 



Para ulama telah menyampaikan ijma (kesepakatan ulama), hukum mubahrw/a darah orang 
kafir adalah hukum kebolehan mutlak selama dia tidak mendapatkan jaminan keamanan. 

[h.38] Al-lmam Ath-Thobari rohimahulloh berkata: Para ulama telah sepakat bahwa bila orang 
musyrik walaupun mereka mengalungkan dan melilitkan leher atau lengannya dengan kulit- 
kulit pohon di sekitar tanah Al-Haram, mereka tetap tidak mendapatkan jaminan keamanan 
dari pembunuhan atasnya apabila tidak ada perjanjian diimmah atau jaminan keamanan 
dengan kaum muslimin . (Tafsir Ath-Thobari 6/61) 

Al-lmam Ath-Thobari rohimahulloh berkata: Telah di sepakati bahwa Alloh menghukumi 
kalangan kafir harbi musyrik; mereka diperangi walaupun mereka berlindung di baitul al- 



23 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



haram atau bait al-maqdis pada bulan al-haram atau bulan lainnya. 3 (Tafsir Ath-Thobari 6/61, 
62) 

Ibnu Katsir rohimahulloh berkata: Ibnu Jarir telah meriwayatkan ijma dari para ulama bahwa 
orang musyrik boleh dibunuh apabila tidak ada perjanjian aman baginya walaupun dia 
berlindung di bait al-haram atau bait al-maqdis. (Tafsir Ibnu Katsir 2/6) 

Oleh karena itu seluruh darah orang kafir yang tidak ada ikatan perjanjian; darahnya bisa 
ditumpahkan, tidak ada perlindungan dan tidak ditegakkan keadilan atasnya. Pendapat ini 
dikumpulkan oleh pendapat para imam ahlu Islam sebagai berikut: 



6.2. Mazhab Hanafi 



Al-Kasani rohimahulloh berkata ketika berbicara tentang syarat-syarat qishosh: 

Syarat qishosh yang ketiga; Terjaganya darah secara mutlak. Maka seorang muslim atau kafir 
diimmi tidak boleh digishosh karena membunuh kafir harbi atau kafir murtad karena hukum 
asal mereka tidak memiliki al-ishomah. Dan tidak ada qishosh pula karena sebab membunuh 
orang kafir harbi musta'man (yang meminta jaminan keamanan). Inilah yang tampak pada 
dhohir riwayat-riwayat mengenai kafir harbi musta'man, dikarenakan perlindungannya itu 
bukan perlindungan mutlak tetapi hanya perlindungan muaqotah (sementara/terbatas) 
selama kunjungannya ke darul Islam. Dan dikarenakan juga orang kafir musta'man penduduk 
kafir harbi ini memasuki darul Islam bukan untuk ijin menetap tetapi dalam rangka keperluan 
singkat setelah itu dia kembali ke darul kufrinya dan jaminan keamanannya hilang setelah dia 
pulang. (Bada'iu As-Shonai 7/235) 

Dan berkata Ibnu Najm Al-Hanafi rohimahulloh mengenai syarat qishosh: 

Diantaranya, status korban pembunuhan memiliki al-ishomah secara mutlak, maka seorang 
muslim dan kafir diimmi tidak boleh d\qishosh karena membunuh kafir harbi atau membunuh 
kafir murtad, sebab hukum asal mereka tidak memiliki al-ishomah ... Dan tidak ada qishosh 
pula karena sebab membunuh orang kafir harbi musta'man (yang meminta jaminan 
keamanan), inilah yang tampak pada dhohir riwayat-riwayat, dikarenakan perlindungannya itu 
bukan perlindungan mutlak tetapi hanya perlindungan muaqotah selama kunjungannya ke 
darul Islam. Persoalan ini telah umum dipahami ketika membahas tentang bab qishosh. (Al- 
Bahru Ar-Ra'iq 8/328) 



Insya Alloh penjelasannya akan di sampaikan mengenai hukum memerangi mereka pada bulan al- 
haram. 



24 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



6.3.Mazhab Maliki 



Dalam kitab Syarh Al-Kabir: Rukun-rukun qishosh ada tiga; 

• Terpidana, syaratnya yaitu at-taklif (baligh), al-ishomah dan mukafaah (ada yang 
menanggung keluarganya yang tinggal). 

• Korban, syaratnya yaitu al-ishomah. 

• Eksekusi, syaratnya yaitu adanya unsur kesengajaan dan permusuhan. 

[h.39l Adapun orang kafir harbi tidak dibunuh dalam rangka gishosh akan tetapi ditumpahkan 
darahnya dengan sia-sia karena tidak memiliki al-ishomah. 4 

Maka seorang muslim sekalipun dia budak tidak boleh dibunuh untuk digishosh disebabkan 
membunuh seorang kafir yang merdeka. 

Tidak ada qishosh bagi orang muslim yang telah membunuh orang murtad dikarenakan hukum 
asal bagi orang murtad adalah tidak adanya al-ishomah bagi dia, dan statusnya menjadi harbi 
dengan sebab kemurtadannya sehingga ditegakkan hukum bunuh baginya. (As-Syarhu Al- 
Kabir 4/237, 238) 

Ad-Dasuki mensyarah kitab As-Syarhu Al-Kabir di dalam kitab Hasyiah Ad-Dasuki Ala As- 
Syarhi Al-Kabir: 

MATAN: Syaratnya adalah at-taklifdan al-ishomah 

SYARAH: Maksud al-ishomah artinya memiliki keimanan atau mendapat perlindungan 

keamanan. 

MATAN: Adapun orang kafir harbi tidak dibunuh dalam rangka qishosh 
SYARAH:_Maksudnya karena dia tidak mengakui dan komitmen dengan hukum Islam. 

MATAN: Tetapi ditumpahkan darahnya dengan sia-sia... dst. 
SYARAH: Maksudnya tetapi dibunuh karena darahnya adalah limbah. 

MATAN: Tidak adanya al-ishomah bagi dia. 

SYARAH: Maksudnya ini adalah sambungan kalimat sebelumnya bahwa kafir harbi dibunuh 
bukan karena qishosh tetapi karena darahnya limbah dan tidak memiliki al-ishomah. (Hasyiah 
Ad-Dasuki 4/237) 

Ad-Dasuki rohimahulloh berkata: -begitupun juga- kafir harbi jika dibunuh oleh seorang 
muslim maka si pembunuh tidak terkena pidana dan tidak terkena denda diyat karena kafir 



Maksudnya, kafir harbi jika terbukti membunuh orang Islam maka dia dibalas bunuh bukan karena 
penegakkan hukum qishos tetapi karena mereka memang halal dibunuh karena tidak adanya jaminan 
keamanan. Wallahualam -edt. 



25 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



harbi tidak memliki syarat al-ishomah sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya. 
(Hasyiah Ad-Dasuki 4/268) 



6.4.Mazhab Syafi'i 

Dalam kitab Mughni Al-Muhtaj: Eksekusi hukum qishosh atau diyat bisa dilaksanakan jika 
memenuhi syarat, kedua belah pihak (korban dan terpidana) memiliki al-ishomah dengan 
sebab (1) Islam, sebagaimana dalam riwayat Muslim: "Aku telah di perintah untuk memerangi 
manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Alloh. Maka 
apabila mereka telah melakukannya maka terjaga dariku darah mereka dan harta mereka 
kecuali dengan haknya". (2) Atau adanya jaminan perlindungan keamanan karena diimmah, 
ahd atau aman sebagaimana firman Alloh: 

Perangilah mereka orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan kepada hari akhir dan 
tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Alloh dan RasulNya dan tidak berdien dengan 
dienul yang haq dari kalangan orang-orang yang di beri al-Kitab sampai mereka membayar 
jizyah. (QS. AtTaubah 9:29) 

Dan firmannya : 

sjrli iJjlikL^I (jjS^i^JI /-i JJ~\ jU 

Don y/to diantara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka 
lindungilah... (QS. At Taubah 9:6) 

Apabila kelslaman dan jaminan perlindungan keamanan menjadi syarat ditegakkan qishosh 
atau diyat, maka ditumpahkan darah orang kafir harbi dan murtad karena darah mereka 
hanyalah limbah bukan ditumpahkan karena eksekusi gishosh . Dalil kebolehan menumpahkan 
darah orang kafir adalah firman Alloh: 



°/fJ^y£JSr> C-~~>- CjiPr^**-*' '«iisli 



Bunuhlah orang-orang musyrik dimana saja kamu menjumpai mereka. (QS. At-Taubah 9:5) 

Dalil kebolehan membunuh orang murtad yaitu sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam 
"Barang siapa yang menukar diennya (murtad) maka bunuhlah dia". ( Muslim lihat Mughni Al- 
Muhtaj 4/14, 15, dan yang membahas serupa lihat di 1'anatu Ath-Tholibin 4/117) 



26 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



[h.39] Dalam kitab Al-lqna' tentang syarat hukum qishosh: Syarat yang kelima; korban 
memiliki al-ishomah baik dengan (1) keimanan atau (2) al-aman dengan diimmah atau ahd. 
Dalilnya adalah firman Alloh ta'ala : "Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada 
Alloh..." (QS. At Taubah: 29) dan firmannya: "Dan jika ada diantara orang-orang musyrikin itu 
meminta perlindungan kepadamu maka lindungilah" . (QS. At Taubah: 6). Maka ditumpahkan 
darah orang kafir harbi dengan sia-sia walaupun anak-anak, wanita, dan budak karena firman 
Alloh ta'ala: "Maka bunuhlah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu menemui mereka" 
(QS: At Taubah: 5). Sedangkan dalil dicabutnya al-ishomah bagi orang murtad yaitu hadits 
"Barangsiapa yang menukar diennya, maka bunuhlah". 

Telah berkata Al-Bajirimi rohimahulloh dalam catatan kaki kitab Al-Mughni: 

MATAN: Maka ditumpahkan darah orang kafir harbi dengan sia-sia. 

SYARAH: Maksudnya semua darah kafir harbi apapun umur dan jenis kelaminnya hanyalah 
limbah. (Hasyiah Al-Bajirimi 4/136) 

Telah berkata An Nawawi rohimahulloh: Orang kafir yang tidak terikat ahd atau dan tidak 
memiliki jaminan keamanan, maka dia tidak terjaga dari ancaman pembunuhan apapun 
agamanya. (Raudhatu Ath-Tholibin 9/259) 



6.5.Mazhab Hanbali 



Telah berkata Ibnu Qudamah rohimahulloh: Pasal hukum qishosh tidak berlaku bagi muslim 
yang telah membunuh kafir harbi berdasarkan firman Alloh "dan bunuhlah orang-orang 
musyrik itu dimana saja kamu mendapatkan mereka" (QS. At Taubah: 5), begitupula seorang 
muslim yang membunuh orang murtad tidak terkena hukum qishosh dikarenakan darahnya 
mubah sama seperti darah kafir harbi. (Al-Kaafi Fi Fiqh Al-lmam Ahmad 4/7) 

Telah berkata Ibnu Muflih rohimahulloh dalam syarh matan kitab Al-Muqni : 

MATAN: Pasal syarat kedua tentang hukum qishosh, korban memiliki al-ishomah. Maka 
hukum qishosh tidak berlaku jika korban adalah kafir harbi atau murtad. 

SYARAH: Pasal syarat kedua tentang hukum qishosh, korban memiliki al-ishomah; maksudnya 
ma'shumud dam (terjaganya darah) karena qishosh hanya disyariatkan untuk memelihara 
darah yang terjaga dan memelihara eksistensi kemuliaan darah kaum muslimin. Oleh sebab 
itu, qishosh tidak berlaku bagi korban yang darahnya tidak ma'shum (tidak memiliki al- 
ishomah). 

Qishosh tidak wajib ditegakkan jika korbannya kafir harbi, dan kami tidak pernah mengetahui 
ada perselihan pendapat pada persoalan ini. Pembunuh kafir harbi juga tidak terkena 
kewajiban diyat atau kafarat apapun karena darah kafir harbi adalah darah yang mubah secara 
mutlak sama seperti darahnya babi. Karena Alloh telah berfiman; "Maka bunuhlah orang- 

27 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



orang musyrik". Tidak ada perbedaan baik si pembunuh seorang muslim atau dzimmi maka 
mereka terbebas dari hukuman. Pembunuh muslim atau diimmi yang membunuh orang 
murtad juga bebas dari hukuman gishosh karena darah orang murtad seperti darah kafir harbi . 
(Al-Mabdi'u 8/263, dan dijelaskan serupa dalam kitab Kasyatu Al-Qina' 5/521) 

Aku katakan : Perhatikan perkataan beliau; karena darah kafir harbi adalah darah yang mubah 
secara mutlaksama seperti darahnya babi!!! 

Dan telah berkata Al-lmam Al-Kabir Ibnu Qudamah rohimahulloh: Pasal tidak boleh di qishosh 
seorang kafir diimmi disebabkan membunuh kafir harbi, dan kami tidak mengetahui ada 
perbedaan pendapat tentang permasalahan ini dikarenakan darah kafir harbi adalah mubah 
secara mutlak layaknya darah babi, dan tidak ada diyat dan tidak ada kaffarat. Begitu pula 
bagi seorang muslim atau diimmi yang membunuh orang murtad, maka mereka tidakterkena 
aishosh, diyat atau kafarat. ( Al-Mughni 8/221) 

[h.41] Berkata Ibnu Qudamah rohimahulloh: Jika korban adalah diimmi atau musta'min 
(orang kafir yang mendapat jaminan keamanan) maka diyat berlaku karena kedua kelompok 
ini terjaga darahnya. Adapun jika korban adalah orang murtad dan kafir harbi maka tidak ada 
diyat atas keduanya karena tidak adanya al-ishomah bagi mereka . ( Al-Mughni 8/313, dalam 
dalil Ath-Tholib 1/290, 291) 



28 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



7. Status Darah Orang Kafir Hanyalah Limbah Layaknya Darah 

Babi 



Penjelasan para fuqoha fiqih dari berbagai madzhab menerangkan bahwa seorang kafir yang 
tidak memiliki ahd (kafir ghairu mu'ahid) darahnya tidak ada keharaman secara mutlak. Darah 
semua person mereka hanyalah darah batil (limbah) yang tidak ada harganya sama sekali. 
Fatwa-fatwa yang memaparkan hal ini sangat banyak dan penjelasan yang kita nukilkan diatas 
membuat kita tenang. 

Inilah dan para fuqoha fiqih -semoga Allah merahmati mereka semua- telah memerinci atas 
hukum asal ini, yaitu bahwa kafir yang tidak memiliki ahd telah dicabut al-ishomahnya secara 
mutlak dan darah dan hartanya mubah secara sempurna. 

Para fuqoha telah menjelaskannya secara rinci dengan definisi yang baik serta penjabaran 
yang lengkap dan kuat sehingga tersingkaplah posisi dan status hakiki orang kafir di hadapan 
syariat Allah. Terbongkarlah bahwa orang kafir itu -secara sempurna- seperti babi atau al- 
kalbu al-uqur (anjing yang suka menggigit). Orang kafir itu tidak ada keharaman pada darah 
dan hartanya dari semua sisi. 

Semua ini adalah hukuman atas kekafiran dan pembangkangan kepada Penciptanya dan 
hukuman atas pengingkaran nikmat yang telah dianugerahkan padanya, kenikmatan yang 
tidakterhitung. 



7.1.Hukum Bagi Orang Kafir Harbi Tanpa Memiliki Jaminan 
Keamanan yang Dipergoki Oleh Kaum Muslimin di Darul Islam 



Persoalan fiqh yang muncul dari bab ini yaitu hukum bagi orang kafir harbi tanpa memiliki 
jaminan keamanan yang dipergoki oleh kaum muslimin di darul Islam. 

Berkata Ibnu Muflih rohimahulloh dalam syarah matan Al-Muqni'; 

MATAN: Barangsiapa dari golongan orang kafir yang tidak memiliki al-aman masuk ke dalam 
darul Islam, mengaku sebagai utusan atau pedagang yang membawa barang dagangannya, 
maka dia diterima. Jika dia seorang mata-mata, maka Imam memiliki beberapa pilihan seperti 
menawannya. Jika dia seorang yang tersesat atau kendaraan berisi barangnya tercecer karena 
terbawa angin, maka menurut Imam Ahmad, barangnya adalah/o/ bagi muslimin. 

SYARAH: Barangsiapa dari golongan orang kafir yang tidak memiliki al-aman masuk ke dalam 
darul Islam, mengaku sebagai utusan atau pedagang yang membawa barang dagangannya, 



29 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



maka dia diterima, maksudnya dia diterima karena bisa jadi pengakuannya jujur yang 
menjadikan syubhat untuk membunuhnya. 

Maksud perkataan Ibnu Muflih, "Jika dia seorang yang tersesat atau kendaraan berisi 
barangnya tercecer karena terbawa angin", yaitu barangnya boleh diambil sebagai/o/ karena 
berada di wilayah darul Islam dan diambil tanpa pertempuran. Mengambil barang seperti ini 
hukumnya sama dengan mengambil hewan hasil berburu, inilah pendapat mazhab Hambali. 
Begitu pula jika kendaran mereka tersesat atau terpisah dari tuannya (yang kafir), maka 
dhohirnya boleh di fai dan dia mendapat bagian tidak lebih dari seperlima. Pendapat ini 
dijelaskan juga di kitab Al-Muharor. 

Dan pendapatnya (Ibnu Qudamah): Hartanya menjadi/o/bagi kaum muslimin karena itu harta 
orang kafir yang didapat tanpa pembunuhan, hukumnya sama dengan harta mereka yang 
ditinggal karena ketakutan. 

Dan pendapatnya (Ibnu Qudamah): Jika mereka masuk ke salah satu kampung darul Islam dan 
seseorang merampas harta mereka dengan kekuatan maka harta tersebut milik yang 
merampas. (Al-Mabda'u 3/394, dan dibahas tuntas dalam Kasyaful Qina' 3/108, lihat Ahkam 
Al-Quran karya Al-Jashshosh 3/40 dan selainnya) 



7.2. Perihal Makanan Darurat untukSurvive 



Persoalan dalam bab ini yaitu berkaitan dengan muslim atau diimmi yang kelaparan hampir 
mati dan perlu makanan darurat untuk survive. 

[h.42] Berkata Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rohimahulloh: Barangsiapa yang hanya mendapati 
seseorang yang memiliki al-ishomah maka dia tidak boleh membunuh orang itu, karena tidak 
boleh menyelamatkan diri sendiri dengan mengorbankan saudaranya. Dia juga tidak boleh 
memotong salah satu bagian tubuh orang yang memiliki al-ishomah untuk dimakan sebab 
akan merusak jasmaninya dan hasilnya juga tidak pasti. Namun jika dia menemukan orang 
yang status darahnya mubah, maka dia boleh membunuhnya dan memakan dagingnya karena 
merusak jasad si korban ini hukumnya mubah . (Al-Kafi 1/492) 

Berkata Ibnu Muflih rohimahulloh: Jika dia tidak menemukan sesuatu yang bisa dimakan 
kecuali orang status yang darahnya mubah seperti kafir harbi atau pezina muhshan maka halal 
untuk membunuh dan memakannya. Karena membunuh mereka tidak diharamkan. Bagitu 
pula jika dia menemukan mayat orang yang status darahnya mubah, maka dia boleh 
memakannya. (Al-Mabda'u 9/208) 

Berkata Al-Mardawi rohimahulloh: Perkataan Ibnu Muflih, "Jika dia tidak menemukan 
sesuatu yang bisa dimakan kecuali orang status yang darahnya mubah seperti kafir harbi atau 
pezina muhshan maka halal untuk membunuh dan memakannya", inilah ketentuan yang 



30 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



diambil oleh mazhab (Hanbali) dan diikuti oleh mayoritas penganutnya. (Al-lnshaf 10/376, 
pembahasan serupa di kitab Manar As-Sabil 2/370, Kasyaf Al-Qina 6/199) 



7.3.Beberapa Permasalahan Lain 



Dan diantara permasalahan yang lain: 

Pendapat Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rohimahulloh: Jika seorang muslim atau kafir dzimmi 
memutilasi tangan orang murtad atau kafir harbi kemudian sekejap selepas itu dia 
menyatakan masuk Islam lalu meninggal, maka tidak ada tuntuan dan tidak ada diyat bagi si 
pembunuh karena orang murtad dan kafir harbi yang dibunuh tersebut pada awalnya tidak 
memiliki al-ishomah. (Al-Kafi Fiqh Al-lmam Ahmad 4/6) 

Berkata Al-Kamal Ibnu Al-Hamaam Al-Hanafi rohimahulloh ketika menjelaskan matan kitab 
Fathul Qodir yang berbunyi : 

MATAN: Hukumnya makruh, jika orang yang statusnya mubah dibunuh atau dimutilasi salah 
satu anggota badannya tanpa terlebih dahulu ditawari Islam. 

SYARAH: Orang yang membunuh atau memotong anggota badan tidak terkena tuntutan dan 
diyat sebab orag kafir hukumnya mubah dan bagi orang murtad memang semestinya dibunuh. 
(SyarhFathulQadir6/71) 

Dan sebagian karangan-karangan dari kitab yg ditulis mengenai pembahasan permasalahan ini 
menurut pemahaman Asy-Syafi'iyah dalam kitab Syarah Al-Muhadzab dikatakan: 

Bila seorang mujahid mencuri ghonimah sebelum dibagikan atau melukai hewan ghonimah 
sebelum dibagikan, maka wajib bagi dia untuk mengembalikan ghonimah curian atau 
melaporkan tindakannya melukai hewan ghonimah yang belum dibagikan walaupun barang 
yang dicuri atau dilukai berstatus mubah darahnya seperti status murtad, babi atau anjing 
sebab ghonimah sebelum dibagikan haram diambil. Hukum ini sama dengan haramnya 
mencuri ghonimah lain, misalnya mencuri ghonimah pakaian. 



31 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



8. Catatan Penting Definisi Kafir Harbi 



[h.43] Definisi harbi yang disampaikan oleh para fuqoha pada pembahasan diatas bukan 
bermakna kafir harbi yang menyerang penduduk muslim, tetapi makna harbi disini yaitu setiap 
kafir yang tidak memiliki al-aman dari penduduk muslim. Oleh karena itu, semua pembahasan 
diatas berdasar atas satu 'ilat yaitu semua kafir disebut harbi karena ketiadaan al-ishomah dan 
ketiadaan al-aman. 

Maka maksud kata harbi diatas adalah sebagai makna hukum bukan makna harbi karena 
ikatan perang. Jadi, setiap kafir yang tidak memiliki al-aman dari penduduk Islam maka dia 
adalah kafir harbi secara dzatnya baik dia memerangi Islam atau tidak. 

Syaikh Ibnu Taimiyah rohimahulloh: Setiap orang kafir dengan kekufurannya memiliki potensi 
memerangi Islam. Maka diperbolehkan untuk memperbudaknya seperti halnya boleh 
membunuhnya. (Al-Fatawa 31/380) 

Berkata Al-lmam Asy-Syafi'i rohimahulloh mengenai orang kafir yang terikat perjanjian: Bahwa 
jaminan keamanan karena perjanjian al-ahd berlaku temporer sesuai kesepakatan. Jika 
waktunya telah habis, maka dia kembali menjadi harbi yang halal darah dan hartanya. (Al- 
Umm 7/323) 

Sifat harbi itu berlaku ketika perjanjian al-ahd telah habis bukan karena sebab mereka 
memerangi penduduk Islam. 

Telah lewat perkataan Al-lmam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah rohimahulloh: Orang kafir hanya 
terbagi menjadi dua kelompok: kafir harbi atau kafir ahdi (terikat perjanjian). Kafir ahdi terbagi 
menjadi tiga kelompok: ahli diimmi, ahli hudnah (terikat perjanjian), ahli aman (mendapat 
jaminan keamanan). (Ahkam Ahlidz Dzimmah 2/873) 

Maka setiap orang kafir yang tidak ada perjanjian al-ahd dengan muslim baik dengan 
diimmah, hudnah atau al-aman maka dia harb\ tanpa perdebatan. 

Berkata Imam Asy-Syafi'i rohimahulloh: Alloh tabaraka wata'ala telah mengharamkan darah 
dan harta orang yang beriman kecuali dengan sebab yang mengharuskan ditegakkan hukum 
untuk menumpahkan darahnya dan mengambil hartanya. Dan Allah telah menghalalkan darah 
dan harta orang kafir kecuali dia bersedia membayar jizyah atau meminta jaminan keamanan 
sampai waktu tertentu. (Al-Umm 1/264) 

Maka orang kafir yang belum membayar jizyah atau memiliki jaminan keamananan; darah dan 
hartanya mubah. 

Al-lmam Asy-Syafi'i menyebutkan juga bahwa: Darah dan harta mereka adalah mubah 
sebelum dia masuk Islam atau sebelum ada al-ahd . (Al-Umm 6/37) 



32 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



[h.44] Dalam Kitab Al-lqna sebuah kitab fiqh mazhab Asy-Syafi'i: Dan begitu juga 5 , kaum 
pagan seperti penyembah matahari, bulan dan kelompok zindiq yang meminta jaminan 
keamanan misalnya sebagai diplomat, maka dia dilindungi. Sedangkan bagi yang tidak memiliki 
jaminan keamanan, maka darahnya boleh ditumpahkan. (Al-lqna 2/506) 

Dalam Kitab Kasyaf Al-Qana' sebuah kitab fikih Hanbali: Kafir harbi darahnya boleh 
ditumpahkan dengan sia-sia... Sedangkan kaum pagan dan kaum yang tidak mendapatkan 
kitab samawat seperti bangsa Turki serta kaum pagan lainnya, maka pembunuhannya tidak 
ada diyat jika mereka tidak memiliki al-aman atau al-ahd. Karena darah mereka asalnya boleh 
ditumpahkan dengan sia-sia. (Kasyaf Al-Qina' 6/21, Al-Mughni 8/314) 

Menurut saya, kita tidak perlu lagi mengulang pembahasan yang telah lalu pada persoalan ini 
dengan memaparkan kembali nash-nash dari Al-Qur'an, as-sunnah dan perkataan para ulama 
dan ahli fiqih bahwa kekafiran adalah sebab utama hilangnya al-ishomah dan dihilangkannya 
keharaman bagi orang kafir. Sesungguhnya al-ishomah dan keharaman (darah serta harta) 
hanya didapat dengan Islam. Maka orang kafir tidak ada al-ishomah dan keharaman kecuali 
jika dia dijamin keamanannya oleh kaum muslimin. Wa duna dialika khoroto al-qitad 6 . 

Telah dijelaskan pada pembahasan terdahulu 7 , bahwa syariat membagi dar hanya dua; jika 
bukan darul Islam maka dia darul harbi dan tidak ada dar jenis lain. Semua dar yang tidak ada 
ahd dengan penduduk Islam, maka dia darul harbi. Setiap penduduk darul harbi menjadi kafir 
harbi sekalipun mereka tidak berniat menyerang darul Islam baik menggunakan operasi militer 
jarak jauh atau jarak dekat atau bahkanpun mereka tidak mengganggu kaum muslimin dengan 
black propaqanda atau penghinaan. 

Siapapun yang memperhatikan secara cermat perkataan-perkataan para fuqoha diatas akan 
memahami persoalan ini dengan terang, khususnya tentang perbedaan antara kafir diimmi, 
kafir mua'ahid (terikat perjanjian) atau kafir mus'tamin (mendapat jaminan keamanan) 
dengan kafir selain kelompok ini yaitu kafir harbi. Tidak ada kelompok-kelompok kafir kecuali 
hanya ini. 

Bagitu pula perkataan para fuqoha yang telah lalu tentang qishosh dan syarat-syarat 
pemberlakuannya; bahwa muslim atau diimmi yang membunuh kafir harbi atau murtad tidak 
terkena qishosh sekalipun pembunuhan ini dilakukan diluar masa perang (diluar konflik -edt). 
Apalagi jika pembunuhan itu dilakukan di masa perang, maka tidak perlu lagi penjelasan 
masalah ini. 



5 Maksudnya tentang kewajiban diyat pembunuhan. 

Terjemahan khoroto al-qitad adalah mengupas pohon berduri tajam dengan tangan telanjang. Makna 
peribahasa duna dzalika khoroto al-qitad ini yaitu sesuatu hal yang sangat tidak mungkin. Artinya orang 
kafir jika tidak memiliki al-aman atau al-ahd maka dia sangat tidak mungkin terjaga darah dan hartanya 
-edt. 

Pada Buku Kupas Tuntas Fiqih Jihad Bagian Pertama Status Dar dalam Islam -edt. 



33 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



9. Kesimpulan 



Kesimpulan akhir dari pendapat yang paling selamat adalah: 

Orang muslim tidak boleh di qishosh bunuh karena membunuh kafir harbi. Sudah dimaklumi 
bahwa membunuh kafir harbi merupakan ibadah, maka masuk akalkah jika pelakunya di 
qishosh karena melaksanakan ibadah? (Al-Mughni Al-Muhtaj 4/16) 

Inilah, dan seluruh fuqoha telah lantang menjelaskan -seperti nukilan yang kita sampaikan 
sebelumnya- bahwa syarat-syarat gishosh yang paling asasi yaitu; si korban memiliki al- 
ishomah secara mutlak. Jika korban adalah kafir harbi, maka gishosh tidak berlaku. Setiap 
kafir harbi sejatinya adalah tentara bahkan lebih dari itu setiap orang kafir sejatinya adalah 
komandan yang sedang tidur. 

[h.45] Berkata Asy-Syaukani rohimahulloh tentang syarat-syarat ditegakkannya hukum 
qishosh: Syarat pemberlakuan qishosh adalah Islam. Jika korban adalah orang kafir harbi maka 
pelaku terbebas dari qishosh karena korban tidak memiliki al-ishomah. (As-Sailul Jiror 4/341) 

Imam Asy-Syafi'i rohimahulloh berkata: Si pembunuh tidak bisa di qishosh karena status 
korban telah dihalalkan darahnya. Mereka boleh dibunuh baik melawan, melarikan diri, ketika 
sedang tidur atau dengan modus apapun jika dakwah telah sampai kepada mereka (rincian 
dakwah kepada kafir dikupas pada bagian 3 -edt). (Al-Umm 4/219) 

Ad-Dasuki rohimahulloh berkata: Adapun membunuh kafir harbi, maka tidak ada tuntutan 
dan diyat sebagaimana yang telah kami jelaskan tentang syarat al-ishomah. (Hasyiah Ad- 
Dasuki 4/268) 

Telah jelas bahwa harbi adalah orang yang tidak memiliki al-ishomah dengan keislaman atau 
al-aman. 

Telah lewat penjelasan An-Nawawi: Orang kafir yang tidak ada ahd atau aman maka tidak ada 
tuntutan ganti rugi atau hutang apapun atas pembunuhan terhadapnya. (Roudatu Ath- 
Tholibin 9/259) 

Dari penjelasan rohimahulloh tadi menjadi terang bahwa orang kafir yang tidak ada tuntutan 
atas pembunuhan padanya adalah kafir yang tidak memiliki ahd atau aman, mereka inilah 
kafir harbi. 

Dalam kitab Al-lqna: Ditumpahkan darah harbi dengan sia-sia walau anak-anak, wanita dan 
budak karena Allah berfirman: 



I_&ajJJJ>r« c~p- (jjS-ik^jl liiiili 



34 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



Maka bunuhlah orang-orang musyrik itu dimana saja kamu menemukan mereka. (At-Taubah: 
5) 

Perhatikanlah perkataan beliau; "walau anak-anak, wanita dan budak", diketahui dari 
penjelasan beliau ini bahwa maksud dari sebutan harbi ialah, orang kafir yang tidak memiliki 
aman. Larangan membunuh mereka dalam nash lain, maksudnya adalah larangan menjadikan 
mereka sebagai target langsung dalam pertempuran dan juga dengan syarat mereka tidak 
terlibat dalam peperangan (non kombatan -edt)! 8 

Terakhir, telah kami sampaikan ijma kaum muslimin tentang mubahnya darah orang kafir 
dengan kemubahan mutlak selama dia tidak memiliki aman. 

Imam Ath-Thobari rohimahulloh berkata: Para fuqoha telah sepakat, jika ada seorang musyrik 
melilitkan kain kabah di leher atau lengannya, mereka tidak mendapatkan perlindungan dari 
pembunuhan jika tidak mengajukan pernjanjian diimmah atau aman. (Tafsir Ath-Thobari 
6/61) 

[h.46] Beliau rohimahulloh juga berkata: Ijma seluruh fuqoha bahwa ketentuan hukum Alloh 
atas kafir harbi dari kalangan musyrikin; mereka dibunuh walaupun berlindung di Baitul 
Haram atau Baitul Magdis di bulan haram atau di luar bulan haram. (Tafsir Ath-Thobari 6/61, 
62) 

Berkata Ibnu Katsir rohimahulloh: Ibnu Jarir telah menyampaikan kesepakatan para fuqoha 
bahwa orang musyrik boleh dibunuh jika tidak memiliki aman sekalipun berlindung di Baitul 
Haram atau Baitul Magdis. (Tafsir Ibnu Katsir 2/576) 

Berkata Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rohimahulloh: Begitu pula bila sekelompok orang murtad 
dari Islam dan menjadi mumtani dari taat kepada imamul muslimin di dar mereka, maka status 
al-ishomah darah dan harta mereka lenyap. Sebab kafir asli tidak mendapatkan perlindungan 
di dar mereka sendiri apalagi bagi kelompok murtad, tentu lebih tidak mendapat 
perlindungan . (Al-Mugni 9/20) 

Perhatikan perkataan beliau; "di dar mereka"! 

Berkata Al-lmam Asy-Syaukani rohimahulloh: Ketahuilah telah dijelaskan hubungan antara 
darul kufri dengan darul harbi pada paparan bab tentang darul Islam dan darul kufri. Dan 
sesungguhnya, orang kafir harbi itu darah dan hartanya mubah dari segala sisi selama dia tidak 
mendapatkan jaminan keamanan dari muslimin . Sedangkan harta dan darah seorang muslim 
adalah terjaga dengan keterjagaan Islam baik di darul harbi maupun selainnya. (Sailu Al-Jiror 
4/576) 

Renungkan pemaparan Imam Asy-Syaukani yang sangat jelas ini mengenai status muslim dan 
kafir. Darah dan harta seorang muslim adalah terjaga baik di darul harbi atau ditempat lain. 
Sedang darah dan harta orang kafir mubah di darul harbi atau di tempat lain. Sebagaimana 



' Insya Allah rincian akan kami jelaskan pada bagian lain. 



35 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



juga darah dan harta seorang muslim terjaga di segala sisi maka darah dan harta orang kafir 
mubah di segala sisi selama dia tidak mendapat jaminan keamanan dari muslimin. 

Asy-Syaukani mengkritik perkataan penulis kitab Hadaiq Al-Azhar; 

MATAN: Mata-mata dan tawanan kafir boleh dibunuh jika dia terbukti memerangi Islam atau 
melakukan aktivitas spionase. 

KRITIK: Tidak begitu, hukum asal darah orang kafir adalah mubah sebagaimana dalam ayat 
saif, apalagi jika mereka mendeklarasikan perang dengan menangkap dan kemudian menawan 
kaum muslimin atau melakukan aktivitas spionase terhadap kaum muslimin... 

[h.47] Maka dari kritikan ini, anda mengetahui bahwa pendapat penulis Hadaiq Al-Azhar; 
"boleh dibunuh i|ka dia memerangi Islam atau melakukan aktivitas spionase" adalah tidak 
berdasar. Yang benar, tidak ada satupun dalil dalam syariat yang menunjukkan syarat 
kebolehan membunuh orang kafir jika mereka memerangi Islam atau melakukan mata-mata. 
Selama-lamanya tidak ada syarat tersebut untuk membunuh orang kafir. (Sailu Al-Jiror 4/369) 

Rohimahulloh juga berkata: -begitu juga- orang musyrik baik dia kombatan atau non kombatan 
maka darahnya mubah selama dia masih musyrik . 9 (Sailu Al-Jiror 4/369) 

Kita tutup pembahasan penting kita ini dengan sebuah kisah dalam perjanjian Hudaibiyah: 

Sebagai penutup ada permasalahan penting dan berguna dalam kisah perjanjian Hudaibiyah 
yaitu: 

Abu Jandal berteriak dengan nada keras: "Wahai sekalian kaum muslimin, apakah kalian akan 
mengembalikanku kepada kaum musyrik sehingga mereka bisa berbuat semena-mena pada 
dienku?" Abu Jandal berkata kembali: "Jika seperti ini, maka akan banyak orang (yang hendak 
masuk Islam lari dari Mekkah) mendapat keburukan dari kaum musyrik". 

Maka Rosululloh sholallahu alaihi wa sallam bersabda: "Wahai Abu Jandal bersabarlah dan 
berharaplah untuk mendapatkan pahala Alloh, karena Alloh akan memberikan pintu dan jalan 
keluar bagimu dan bagi orang-orang lemah sepertimu. Sungguh, kita telah meneken perjanjian 
dengan kaum tersebut. Kita berikan perjanjian kepada mereka sedang mereka memberikan 
janji Allah kepada kita, dan kita tidak mengkhianati mereka". 

Kemudian (Abu Jandal berlalu), maka Umar bin Khaththab menyusul Abu Jandal dan berjalan 
disampingnya sembari berkata: "Bersabarlah wahai Abu Jandal sesungguhnya mereka 
hanyalah orang-orang musyrik dan sesungguhnya darah setiap dari mereka hanyalah darah 
anjing. Umar pun mendekatkan gagang pedang pada Abu Jandal. Dia berkata -yaitu Umar-: 
Aku berharap Abu Jandal mengambil pedang itu lalu memukulkannya pada ayahnya (yang 
musyrik) 10 . Namun Abu Jandal tidak melakukannya dan ketegangan selesai... (Hadits hasan 



Islam tidak mengenal pembagian warga sipil -edt. 

Saat itu ayah Abu Jandal yakni Suhail bin Amr ada di tempat tersebut -edt. 



36 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



Ahmad 4/325, Baihaqi Al-Kubro 9/227, Tarikh Ath-Thabari 2/123, Siroh Nabawi 4/287, lihat 
Fathul Bari 5/345) 

Perhatikanlah ucapan Umar, "Dan sesungguhnya darah setiap dari mereka hanyalah darah 
anjing" dst... Perkataan inspiratif Al-Faruq kepada Abu Jandal ini didengar oleh Nabi sholallahu 
alaihi wa sallam dan beliau tidak mengingkarinya. Perkataan Al-Faruq ini diucapkan setelah 
ada jaminan keamanan dan perjanjian bagi kaum kafir. Lalu apa gerangan -wahai kaum 
muslimin- dengan darah orang kafir yang tidak ada perjanjian dan jaminan aman baginya?!!! 
Perhatikanlah dengan seksama. 




Maktabah Jahlzuna 



37 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



Senandung Anak Mujahid 



Adik-adik kami... Maafkanlah kakak kalian tak mampu menepiskan setitik dukamu. Doa kami 
kupanjatkan untukmu, semoga engkau lekas dewasa, berilmu dan menjadi anak shalih 
penerus perjuangan ayahmu. Menebar kebahagiaan dengan indahnya Syariat Islam yang 
kokoh tegak menjulang dengan kawalan RPG dan Al-Qur'an. 



Pada kelembutan seraut senyuman 
Pada kelunakan tutur perkataan 

Ada terlukis warna kerinduan 
Terkenang ayah jauh di rantauan 

Ayah selalu menghilang diri 
Tinggalkan ibu membilang hari 
Terkadang tiada khabar berita 
Namun ibu tak pernah berduka 

Sesekali hati rasa cemburu 

Melihatteman semuanya berayah 

Bermanja bermesra kasih berpadu 

Hidup gembira tiada gundah 

Tidaktertahan menanggung rasa 

Kepada Ibu segera bertanya 

Ke manakah ayah sekian lama 

Hingga kini belum menjelma 

Ibu tersenyum di dalam sayu 

Senyumnya pudar tiada indah 

Rahsiakan penyakit tiada terperi 

Batinnya sendu anak rindukan ayah 

Wardah memujuk ibu menjawab 

Tuturnya lembut penuh hikmah 

Ayah pergi ke medan jihad 

Mencegah mungkar 

Menegakkan yang hak 



"Oh ayahku, seorang mujahid rupanya 
Aku rasa bertuah, tak akan ku kesali takdir ini 



38 | J a h i z u n a 



Tidak ada Perlindungan kecuali dengan Al-Iman atau Al-Aman 



Suatu hari nanti, bumi Allah ini akan bersih jua 

Dari najis, mungkar dan dosa 

Ayah tentu gembira 

Ayah tentu bersyukur 

Oh Ibu biarkan ayah pergi 

Jangan bekalkan dia dengan air mata 

Tetapi dengan doa penyubur jiwa 

Ayah akan kujejaki setiap tapak langkahmu 

Aku anak ayah, anak mujahid" 

Pada kemanisan sekuntum senyuman 

ada kelunakan tutur perkataan 

agar terlukis warna kerinduan 

terkenang ayah jauh di rantauan 

Ibu tersenyum di dalam sayu 

senyumnya tawar tiada indah 

mungkin batinnya berlagu sendu 

bila anak rindukan ayah 

Tiada memujuk ibu berperi 

gugurnya rambut menyusun kata 

ayah pergi menabur bakti 

membela kemulyaan agama 



#Jangan lalaikan anak-anak saudara antum yang berjihad dalam doa sholih antum# 



39 | J a h i z u n a